Selasa, 12 Juli 2016

Benteng Kastela Peninggalan Portugis di Kota Ternate



BENTENG KASTELA DI KOTA TERNATE

Mentari yang mulai malu-malu menunjukan wajahnya dan perlahan-lahan mulai terbenam. Hal itu tidak menyurutkan semangat saya bersama teman saya untuk berjalan menelusuri kota Ternate dari kelurahan tanah tinggi ke kelurahan kastela di Ternate utara yang kami tempuh mengguanakan sepeda motor sekitar 30 menit dari pusat kota. Yah itulah kelurahan kastela, kelurahan yang menjadi tempat tujuan kami sore ini (selasa mei 2016), rasa tertarik dengan carita orang soal benteng kastela salah satu benteng peninggalan sejarah. Rasa semangat yang sangat tinggi semakin beretambah ketika saya sampai dipintu gerbang benteng ini. ada rasa bangga dengan keberadaan bangunan penuh sejarah ini di kota Ternate.
Sekilas tentang sejarah benteng kastela yang saya tau, Benteng Kastela adalah benteng peninggalan Portugis yang dikenal juga dengan nama Benteng Gamlamo. Benteng Kastela terletak di Jalan Raya Benteng Kastela Santo Paulo, Desa Kastela, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Lokasi benteng ini berada di sebelah utara kawasan wisata Pantai Kastela. 

Pintu gerbang benteng Kastela
Menurut catatan sejarah, setelah Malaka ditaklukkan oleh Portugis pada tahun 1511, Laksamana Alfonso d’Alburquerque mengirim Antonio de Abreu dan Francisco Serrao dengan armada yang terdiri dari tiga kapal ke Maluku pada Desember 1511. Dalam bulan Januari 1512, mereka tiba di Banda. Setelah beberapa waktu di Ambon, karena mengalami naas dengan karamnya kapal yang ditumpangi, kemudian Serrao dijemput utusan Sultan Ternate dan dibawa ke Ternate pada awal 1512.
Kedatangan Francisco Serrao di Ternate adalah kedatangan seorang pejabat pertama Eropa dalam hal ini Portugis dari sebuah program eksplorasi penguasa Portugis yang ambisius dan telah dimulai sejak pertengahan abad ke-15. Ekspansi Portugis ke Maluku dalam rangka menemukan Kepulauan Rempah-Rempah (the spice islands). Mereka seolah-olah berjudi dengan nasib dan mempertaruhkan segalanya dalam upaya memperoleh monopoli perniagaan rempah-rempah yang kala itu menjadi komoditas mewah di pasaran Eropa yang menjanjikan keuntungan yang fantastis. Kemudian mereka mempertahankannya dengan segala daya dan upaya, baik politik, ekonomi, maupun kekuatan militer sekalipun.
Francisco Serrao adalah seorang fungsionaris Portugis pertama yang berhasil merundingkan hak-hak monopoli negerinya atas perdagangan rempah-rempah dan hak eksklusif pendirian benteng Portugis di Gamlamo dengan SultanTernate, Sultan Bayanullah (Boleif).

Akhirnya, pada tahun 1520, Raja Portugis, Don Manuel, mengirim Jorge de Brito untuk membangun benteng Portugis di Gamlamo, Ternate, dan menunjuk adik Jorge de Brito, yaitu Antonio de Brito, sebagai komandan benteng tersebut. Benteng yang dibangun Portugis itu diberi nama Nostra Senhora de Rosario (Wanita Cantik Berkalung Bunga Mawar), tetapi lebih dikenal sebagai benteng Gamlamo oleh penduduk lokal, dan sekarang berubah nama menjadi benteng Kastela karena lokasinya yang berada di Desa Kastela.
Benteng Kastela ini dibangun oleh Portugis secara bertahap selama kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Setelah menyelesaikan pembangunan benteng ini pada tahap awal, pada tahun 1521 Jorge de Brito kembali ke Goa (India Barat) namun belum sampai di sana ia telah tewas dalam salah satu pertempuran di Aceh. Kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriquez pada tahun 1525, pada tahun 1530 giliran Gonsalo Pereira yang melanjutkan pembangunan, hingga pada tahun 1540 benteng ini dirampungkan oleh Jorge de Castro.
Hingga 1569, benteng Gamlamo merupakan satu-satunya benteng yang berdiri di luar Malaka. Setelah itu, baru dibangun benteng-benteng yang lain di Ambon, Jailolo, Moro (Tolo dan Samafo), Banda dan Makassar. Tetapi, benteng-benteng yang dibangun belakangan itu lebih mirip rumah kembar ketimbang benteng yang sesungguhnya. Pada benteng tersebut tidak terdapat seorang kapten yang diangkat Raja Portugis, seperti pada benteng Gamlamo di Ternate.
Pada tanggal 27 Februari 1570, terjadi peristiwa pembunuhan Sultan Khairun Jamil dengan keji di benteng ini oleh Antonio Pimental atas perintah Diego Lopez de Mesquita, Gubernur Portugis ke-18, melalui tipu daya dan muslihat.
Babullah, pewaris tahta Kesultanan Ternate, menuntut agar Diego Lopez de Mesquita diajukan ke pengadilan dan dihukum atas kejahatan pembunuhan. Ketika tuntutan ini ditolak, Babullah dan rakyat Ternate mengepung benteng Gamlamo selama 4 tahun (1574-1578) dan mengultimatum agar Portugis segera hengkang dari Ternate. Dalam kondisi yang seperti itu, mulailah evakuasi besar-besaran orang Portugis dari Ternate, mula-mula ke Tidore sebagai tempat transit, dan kemudian ke Goa. Ketika bala bantuan Portugis dari Goa dan Malaka tiba, keadaan sudah terlambat. Pimpinan armada Portugis hanya dapat menyaksikan puing-puing kekuasaan Portugis di Ternate. Gubernur berikut perangkatnya, misionaris dan orang-orang Portugis lainnya telah meninggalkan Ternate dengan meratapi kekalahan dan masa lampau mereka yang penuh kekerasan, arogansi dan pertumpahan darah. Mereka pergi dengan membawa serta kenangan buruk yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa mereka harus menghadapi akhir kekuasaannya secara menyedihkan. 

Pada tahun 1606, Gubernur Spanyol Don Pedro da Cunha menyerbu dan menguasai benteng ini. Namun, sejak VOC melancarkan kegiatan niaganya secara intens, Spanyol ternyata tidak mampu bersaing dengannya dan hanya mampu bertahan karena kemurahan hati para Gubernur Belanda yang ada di Ternate. Oleh sebab itu, pada 1662 otoritas Spanyol di Manila memutuskan menutup garnisunnya di Maluku dan menarik kembali pasukan-pasukannya dari Maluku untuk menghadapi penyerbuan besar-besaran bajak laut Tiongkok yang akan mengambil alih Manila. Pada 1663, penarikan pasukan Spanyol dari Maluku dimulai, dan sebelum diberangkatkan ke Manila, pasukan Spanyol sempat membumihanguskan benteng Gamlamo agar tak direbut oleh Belanda.
Benteng Kastela ini memiliki lahan seluas 2.724 m² dengan bentuk persegi empat, dan tersusun dari batu gunung dan batu kapur. Bagian-bagian benteng Kastela yang sekarang masih bisa diidentifikasi hanyalah bastion dan menaranya saja, sedangkan sisanya hanya berupa reruntuhan. Kendati demikian, benteng pertama peninggalan Portugis ini masih memperlihatkan sisa kemegahannya di atas puing-puing yang ada.
.

(oleh : Inggrith Pusung)

Pengaruh Budaya Tradisional dalam Penyelenggaraan PILKADES

PENGARUH BUDAYA TRADISINOAL DALAM PENYELENGGARAAN PILKADES

(Oleh: Helon Sauban)

Indonesia adalah negara yang majemuk yang terdiri dari berbagai bangsa-bangsa, suku, Ras dan agama. Berbagai literatur telah tercatat bahwa Indonesia memiliki 300 suku-bangsa, masing-masing dengan bahasa dan identitas kultur yang berbeda. Misalnya, dalam buku “krisis politik dan proporsi demokratisasi” oleh T. Massa Djafar, dituliskan bahwa, pengaruh budaya dapat dilihat dari adanya pengaruh bentuk berbagai agama didalam masyarakat indonesia. Diluar Jawa, banyak orang dipengaruhi oleh Islam modernis, terutama di daerah-daerah strategis yang berada dalam jalur perdagangan internasional. Sementara itu pada daerah pendalaman masih banyak dipengaruhi oleh Islam konservatif tradisionalis dan kaum Kristen (Katolik dan Protestan), seperti di Maluku, Nusantara Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Tapanuli dan di daerah Kalimantan Tengah. Hindu Bali (Hindu Dharma), terutama dipulau bali, sedangkan dipulau Jawa juga terdapat golongan Islam modernis terutama di daerah-daerah Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan kebudayaan pantainya.
Hal tersebut sangat berpengaruh pada proses demokratisasi yang berlangsung pada pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak yang dilaksanakan Juni 2016 mendatang. Selain pengaruh tradisional diatas juga berpotensi pada kecendurungan mengalami krisis legitimasi hati nurani rakyat. Desa merupakan bagian dari daerah kecil dan juga terbagi dalam beberapa bagian diantaranya RT dan RW, dan lainnya dikotak-kotakan dalam kelompok dusun dan/atau marga serta suku, yang walaupun sebagaian besar desa hanya terdapat satu suku. Masyarakat dalam menentukan pilihannya cenderung lebih mengikuti arahan (legitimasi) dari ketua kelompok/wadah (ketua RT/RW, ketua dusun/marga, ketua suku) ketimbang mengikuti pilihan hati nuraninya sendiri. Ketua-ketua tersebut sangat berpengaruh pada tingkat pedesaan dalam menentukan keputusan didesa. Sebagai contoh hal yang perna terjadi dilingkungan sekitar penulis, sebagian masyarakat memisahkan diri dari sala satu Gereja dan mendirikan gereja baruhnya sendiri karena kandidat kepala desa mereka kalah dalam pemilihan, hal tersebut terjadi karena yang mempengaruhi mereka adalah sala satu tokoh marga dan tokoh gereja.
Ada dua tipikal masyarakat dalam berpartisipasi untuk menyalurkan suara pada pemilihan umum (Baca PILKADES). Pertama, karena keterpanggilan hati Nurani. Tipe masyarakat yang demikian adalah mereka dengan sukarela menyalurkan suaranya sebagai bentuk partisipasi yang murni untuk menentukan pemimpin pada pilihannya secara adil dan demokratis. Hal ini adalah bentuk demokrasi yang ideal (ideal democracy). Kedua, karena dimobilisasi. Tipe masyarakat yang demikian adalah mereka dalam menentukan pilihan ditentukan oleh sesuatu hal yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Contoh, menerima janji jabatan, menerima materi dalam bentuk uang dan sebagainya. Hal ini adalah bentuk demokrasi yang merosot (sink democracy).
Masyarakat dalam menentukan pilihannya harus fokus pada ideal democracy agar penyelengara negara dapat terealisasi sesuai dengan cita-cita yang tertuang dalam alinea keempat UUD RI 1945 dan bebas dari praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Demikian sebaliknya, sink democracy harus diwaspadai agar tidak terjadi hal buruk dalam masyarakat khususnya didesa setelah PILKADES. Ditengah kemajemukan bangsa Indonesia kita harus mengangap itu merupakan kekayaan bangsa Indonesia dengan berbagai bangsa-bangsa, suku, ras dan agama namun tetap satu dalam semboyan “Bhineka Tunggal Ika” (berbeda-beda tapi satu).
Menurut penulis, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mewaspadai terjadi hal buruk dampak dari PILKADES:

1.    Sosialisasi tata cara pemilihan yang Bebas, Umum dan Rahasia
Sebagian besar masyarakat di pelosok pedesaan adalah masyarakat awam dan berpendidikan yang rendah. Sangat dimungkinkan muda dipengaruhi oleh kaum yang berpendidikan lebih tinggih (kaum inteleg) dari mereka. Oleh karena itu, sasaran sosialisasi harus diprioritaskan pada masyarakat desa.
2.    Sosialisai tentang dampak buruk dari konflik horizontal
Karena masyarakat masih awam dan muda dipengaruhi, cenderung akan muda melakukan hal buruk tanpa berpikir dampaknya terlebih dahulu. Oleh karena itu, selain hal tersebut diatas, sosialisasi terkait hal ini juga harus diprioritaskan untuk mencegah terjadi konflik diantara masyarakat.

MESJID KESULTANAN TERNATE



Sejarah Negeriku Yang Tak DiPerhatikan !!!




Asalamualaikum, kami menyapa para bapak-bapak yang duduk di emperan Mesjid Kesultanan ini, dengan wajah yg sudah basah karena air wuduh mereka membalas salam kami tanpa menyalami tapi dengan senyum yang manis kami tau mereka menerima kedatangan kami, Waktu menunjukan (12.30 WIT) menandakan mereka akan melaksanakan sholat dzuhur, kami memberitahukan maksud kedatangan kami, tapi mereka mau sholat kami di persilahkan untuk melihat-lihat sekeliling Mesjid Kesultanan, di depan mesjid sultan ada sebuah menara orang ternate biasa bilang falajawa, di samping kiri masjid ada tempat sholat khusus wanita, karena wanita tidak bisa masuk sholat kedalam mesjid kesultanan karena pada zaman dahulu ada seorang istri nabi yang sholat dan pinggangnya di cubit oleh seorang pria tak di kenal sehingga Mesjid Kesultanan menerapkan peraturan ini agar tidak terjadi pelecehan dan datang bulan yang datang tiba-tiba di kala shlat, selain itu juga di samping kanan ada juga sebuah bangunan, bangunan itu di pakai buat tempat pengajian di muka tempat pengajian ada kolam itu bukan kolam ikan tetapi dulunya itu tempat pengambilan air wuduh, tetapi sekrang kolam itu sudah rusak, dan tidak terpakai lagi, rencana meraka ingin memperbaiki kolam tersebut agar bisa mengambil air wuduhnya di situ, di depan mesjid kesultanan juga ada terdapat dua beduk letaknya di samping kiri jalan masuk, beduk yang d bagian kiri itu beduk sudah lama sedangkan beduk yang di sampingnya itu beduk baru, beduk baru itu berasal dari mojokerto,beduk itu di berikah oleh seorang pengusaha di mojokerto, di samping kanan mesjid kesultanan juga ada sumur tetapi airnya sudah kering, di smping kiri ada juga bak penampungan air bersih buat wuduh juga, ada juga sumur yang di dalamnya masih ada air yang masi bersih dan yang digunakan oleh para umat untuk mangambil wuduh, di belakang mesjid sultan ada terdapat 6 makam kuburan, kuburan ini adalah kuburan keturunan Kesultan, Yang pertama ada kubur Sultan Mudafar Syah yang Meninggal Tahun 2015, di sebelahnya Ada kakaknya bernama Jurimi, Ada juga Kuburan yang sudah di buat rumahnya disitu di makamkan Ayah mendiang Sultan Mudafar Syah, dan Adiknya bernama Hamid, Di sebelah lagi hanya di batasi dengan tembok sebatas lutut orang dewasa disitu dimakamkan Sultan Safrudin dan Jamal Lu Lail uniknya beliau ini adalah orang mekah, karena hanya beliau menafsir kiblat yang ada di kesultanan ini salah dan ketika mereka melihat memakai bambu ternyata itu benar, sehingga beliau berada di Ternate hingga meninggal, Di Mesjid ini juga terdapat mes para penjaga mesjid ini, kami tertarik dengan 5 tempayang yang ada di depan mesjid 3 di kiri dan 2 di kanan, dan kenapa juga lantainya berwarna merah dan Keaslian dan interior mesjid itu masih sangat terjaga juga sangat bersih .
Dan jika kita melangkahkan kaki kedalam masjid itu, maka kita pasti akan langsung melihat gubah dan mimbar yang berdiri lurus tepat didepan pintu masuk masjid. Udara didalam masjid terasa begitu sejuk karena bangunan dari masjid itu sebagian besarnya terbuat dari kayu. Didalam masjid itu terdapat terdapat 16 tiang besar yang menyangga bangunan tersebut, ada juga kipas angin yang berjumlah 5, lampion yang berjumlah 31, kotak amal 2, serta lemari yang birisi buku-buku religidan kitab suci Alquran. Warna yang mendominasi didalam masjid adalah warna hijau. Adapaun lantai dari dalam bangunan masjid berwarna merah, serta membentuk garis lurus, pintunya berwarna hijau-kuning  dan texture dari lantai serta didinding begitu halus, dan membentuk pola yang berulang-ulang,
Setelah selesai sholat dzuhur kami di panggi oleh salah satu penjaga mesjid itu, kira-kira dia berumur 19 tahun, seorang anak muda yang sudah mengabdi di mesjid ini merupakan mahasiswa semester 2 di salah satu Universitas di Ternate, Kami di panggilnya masuk dan lucunya kami yang perempuan hanya bisa sampai pada batas pintunya saja, kami di sambut oleh seorang tetuah yang ada disitu namanya Hj.Naser beliau sudah hidup di Kesultanan ternate selama 20 tahun, kami menyalami dan berkenalan dengan beliau, kami pun mulai berbincang-bincang dengannya. Menurut sejarah, Mesjid kesultanan ternate telah dirintis oleh masa sultan Jaenal Abidin, namun ada juga yang beranggapan bahwa pendirian masjid sultan baru dilakukan awal abad ke 17, yaitu sekitar tahun 1606 saat berkuasanya sultan Saidi Barakati. Hingga sekarang, belum ditemukan angka valid sejak kapan sebetulnya masjid sultan ternate didirikan. Akan tetapi, melihat kenyataan sejarah, sebelum sultan Saidi Barakati naik tahta, kesultanan ternate telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik dibidang keagamaan, ekonomi maupun angkatan perang. Perjuangan sultan khairun (1534-1570) yang diteruskan yaitu sultan Babulah (1570-1583) untuk mengusir pasukan portugis, misalnya, menjadi salah satu fase kegemilangan kesultanan ternate sekitar setengah abad sebelum berkuasanya sultan Saidi barakati. Sehingaa perkiraan bahwa masjid sultan ternate baru dibangun pada awal abad ke 17 tidak memiliki alas an yang cukup kuat. Masjid sultan ternate dibangun didekat kadaton sultan ternate, tepatnya sekitar 100 meter sebelah kadaton.
Masjid kesultanan ternate dilindungi undang-undang benda cagar budaya no 5 tahun 1992. Barangsiapa yang sengaja merusak dan merubah bentuk benda cagar budaya dikenai sanksi pidana sesuai pasal 26 dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi Maluku Utara.
Ada beberapa imam yang setia memimpin Ibadah di Mesjid yang di nama SIGI LAMO ini yang artinya Mesjid yang besar, di antaranya Imam Jiko (Hj. Bakar), Imam Jawa (Hj. MAsbuk), Imam Sangaji (Hj.Deka), Imam Moti (Hj.Sadiq). Mereka memakai system shif per minggunya mulai dari Jumat-jumat nya lagi, Di mesjid ini Sultan biasanya bersholat tetapi dengan tempatnya sendiri yang bdi tutupi menggunkan kain putih yang merupakan lambing kesucian. Kami pun bertanya soal benda-benda yang menghiasa Mesjid yang berdinding hijau ini, 5 tempayang yang ada di depan merupakan lambang sholat 5 waktu, lantai dasar yang terbuat dari tanah liat dan terlihat sangat bersih, Mesjid ini mempunyai cleaning service yang di upahi 2 juta rupiah per bulan, dan halamannya biasanya di bersihkan oleh remaja mesjid. Ketika kami masuk tadi kami melihat papan nama yang mengklaim mesjid ini ada cagar budaya dan bertanda dari Dinas Pariwisata Kota Ternate, tetapi ketika kami berbinncang Hj.naser ternyata tidak ada perhatian dari DInas Pariwisata terhadap Mesjid Kesulatan, semua di tanggung oleh pihak kesultanan, Apakah sudah benar jika Dinas Pariwisata menulis nama mereka di salah satu papan itu ? Ataukah ? . Hj. Naser sendiri tertawa ketika kami menyinggung soal Dinas Pariwisata, beliau juga mengatakan Dinas pariwisata tidak pernah datang dan melihat. Biaya lampu di dapatkan dari kotak amal yang ada dalam mesjid itu sendiri. Hj. Naser juga bercerita soal beberapa kejadian gaib yang terjadi di Mesjid ini ada yang membantu mengecat, para arwah nenek moyang yang datang sholat di malam jumat dan hari jumat, dan ada beberapa kejadian lagi.
Menarik, Dari cerita Mesjid kesultanan ini berbanding terbalik dengan Fort Orange yang biasa disebut dengan bentang Oranye oleh masyarakat sekitar, kami memasuki arel ini yang di sambut dengan warna orange khas akan taman di Fort Orange berdiri di atas luass tanah 12,68 m2, benteng ini berbentuk trapezium dengan ukuran 180 m X 165 m, mempunyai empat buah bastiong pada setiap sudutnya memiliki tembok tembong dengan ketingian sekitar 5 m dan kemiringan 40, ketebalan tembok luar bangunan sekitar 1 m. temik ketebalan benteng bagian dalam adalah 0,75 m diatas tembok benteng terdapat rampart atau jalan keliling yang menghubungkan ke 4 bastion ke tiap sudtnya. Rampart ini berada pada ketinggian sekitar 3,5 m dari tanah dan mempunyai jarak sekitar 1,1 m dari ketinggian tembik dinding pada ke 2 sudut bagian dalam dari bastion yang terletek disisi barat laut dan timur terdapat ram berukuran 15m X 3m, menuju kebagian atas bastion. Ada juga beberapa rumah yang pernah di huni oleh para jendral belanda, yang uniknya atapnya terbuat dari kayu. Ada lonceng yang konon katanya tak asli lagi, yang asli terdapat di Gereja Santo Wilibrodus, Tapi kebenarannya masih simpang siur karena tak satupun orang yang ada disekitar tempat ini yang mengetahuinya.
Yang kami datangi tadi tidak ada pengunjung dan pengelolah benteng. Lingkungan dalam benteng lumayan bersih tetapi pas kami melihat didalam ruangan benteng atau juga biasa disebut penjara/tahanan ruangnya itu kotor sekali, dan ada yang peduli untuk membersikan tempat tersebut padahal Dinas Pariwisata berkantor di situ. Didalam benteng ada juga terdapat Musallah dan tempat peninggalan sejarah, tetapi kami tidak bisa masuk kedalamnya karena tidak ada penjaganya. Pengunjung masuk hanya pada jam kantor dinas pariwisata, setelah kami keluar dari benteng kami melihat-lihat sekitar taman Fort Orange yang di renovasi pada tahun 2014 ini, ibaratkan sebuah rumaqh yang tak di urus, rumput di sekeliling sudah meninggi dan tak di pangkas, paving lantai yang sudah rusak serta sambah yang menumpuk di sana-sini, padahal awalnya taman ini sangat bersih dan diperhatikan piihak perintah, bak sampah yang tidak memadai dan kurangnya kesadaran massyarakat yang mengunjung membuat taman ini terlihat berantakan.
Pemerintah ,, dimana kalian ? Tak Lihatkah kalian dengan kami yang berdiri kokoh disini ?

SALAM DARI KAMI YANG PEDULI SEJARAH



Minggu, 19 Juni 2016

Perkici Kie Raha

Perkici adalah salah satu dari sekian banyak burung yang ada di Indonesia dan tentunya Maluku Utara. Nah itu dia burung perkici, si ratu hijau dengan ukuran tubuh yang kecil namun mempunyai suara yang khas dan bisa dilatih berbicara jika sudah dijinakan. Mungkin sebangian orang akan heran mengapa  nama burung ini diangkat menjadi nama di komunitas ini. Berangkat dari itu, burung perkici adalah burung yang dikenal dengan banyaknya berbicara, kalau biasa sering diistilahkan “cerewet”kalau burung ini juga sering diistilahkan burung “golojo”dalam bahasa Ternate yang berarti tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan dan akan terus mencari untuk memenuhi keinginannya itu, nah Kie Raha sendiri merupakan semboyan Maluku utara yang artinya empat kerjaan besar yang terdapat dfi Maluku utra. Jadi nama Perkici Kie Raha sendiri mengandung makna kumpulan anak muda Ternate dengan jiwa ketidakpuasan untuk senantiasa belajar, berusaha mencari dan menyuarakan banyak hal yang ada di Maluku Utara maupun di luarnya kemudian dipublikasikan lewat media.
Komunitas ini sendiri terbentuk pada 16 mei 2016 pasca pelatihan jurnalistik yang dilaksanakan oleh YAKOMA-PGI, 12 - 14 Mei 2016. Berangkat dari itu semua anak-anak muda Ternate yang mengikuti pelatihan ini berinisiatif untuk membuat komunitas yang nantinya akan bekerjasama menciptakan karya dan kreasi di bidang media dan komunikasi untuk mengkaji soal kondisi Maluku Utara dan kemudian dipublikasikan. Berdasarkan kesepakatan juga, komunitas ini merencanakan beberapa program yang akan di laksanakan yaitu penerbitan buletin yang akan didistribusikan di kampus-kampus yang ada di Ternate, menulis rutin di website komunitas dan melakukan seminar, dialog dan juga kegiatan lain tentang media dan budaya damai dikota Ternate ini itu sendiri. Dengan bekerjasama dengan YAKOMA-PGI dan instansi-instansi terkait  lainnya.

Salam dari kami orang muda Ternate!